UPT. PUSKESMAS RANDUAGUNG

25 April 2025   70 kali  
VAKSIN ROTAVIRUS: APAKAH SUDAH WAKTUNYA DIMASUKKAN DALAM PROGRAM IMUNISASI NASIONAL DI INDONESIA?
VAKSIN ROTAVIRUS: APAKAH SUDAH WAKTUNYA DIMASUKKAN DALAM PROGRAM IMUNISASI NASIONAL DI INDONESIA?
Rotavirus adalah penyebab diare pada anak dan
menjadi masalah kesehatan masyarakat yang
sangat penting baik bagi negara-negara maju dan
sedang berkembang. Rotavirus pertama kali
dilaporkan di Australia oleh Bishop et al. 1 pada tahun
1974, sedangkan di Indonesia diare rotavirus baru
dilaporkan yang pertama kali pada tahun 1981.2 Di
negara-negara sedang berkembang, penyakit diare
adalah salah satu dari 10 penyebab kematian
terbanyak pada anak-anak3 dan sekitar setengah dari
diare anak-anak disebabkan oleh rotavirus.4,5Adapun
di negara maju, rotavirus menjadi penyebab penyakit
diare pada anak-anak usia di bawah lima tahun
(balita) yang memerlukan perawatan di rumah sakit.5
Oleh karena itu, WHO telah menetapkan rotavirus
sebagai salah satu sasaran dalam upaya
pencegahan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian bayi dan anak pada skala global.6
Para ilmuwan dari berbagai belahan dunia telah
berupaya mengembangkan vaksin rotavirus sejak
tahun delapan puluhan.4,7,8,9 Upaya tersebut didahului
oleh penelitian-penelitian molekuler, imunologi,
epidemiologi dan implikasinya pada pembiayaan
vaksinasi diare rotavirus secara nasional. Pada tahun
1999, vaksin rotavirus untuk yang pertama kali
diedarkan di Amerika Serikat dengan nama dagang
Rotashield (Wyeth Lederle Vaccine Philadelphia,
PA). Namun demikian, vaksin tersebut ditarik dari
peredaran karena terjadinya efek samping
intususepsi usus yang menimbulkan kematian. Anak
anak yang divaksinasi dengan vaksin Rotashield 1
di antara 10.000 mengalami intususepsi di Amerika
Serikat, angka ini lebih besar dibanding dengan
angka kematian karena diare rotavirus.4,7,8,9
JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
VOLUME 12
No. 02 Juni
l
2009
Halaman 83 - 93
Artikel Penelitian84
l Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol. 12, No. 2 Juni 2009
Siswanto Agus Wilopo: Vaksin Rotavirus: Apakah Sudah Waktunya ...
Pada awal tahun 2006, The US Food Drugs
Administration (FDA) Amerika Serikat mengeluarkan
ijin edar vaksin rotavirus baru (RotaTex), yang
diproduksi oleh Merck Vaccines, Whitehouse
Station, NJ, USA. Vaksin ini untuk sementara hanya
diedarkan di Amerika Serikat.4,10,11 Vaksin rotavirus
baru lainnya ialah Rotarix yang diproduksi oleh
GlaxoSmithKline (GSK) Biologicals, Rixensart,
Belgium. Vaksin Rotarix telah diberi ijin edar di lebih
dari 30 negara, termasuk negara-negara Masyarakat
Ekonomi Eropa.4,10,12 Vaksin ini diperkenalkan dalam
program imunisasi nasional di Brazil dan Panama
pada bulan Maret 2006, yang kemudian disusul oleh
Venezuela dan Meksiko.
Kedua vaksin baru tersebut (dari Merck dan
GSK) adalah vaksin yang diberikan secara per oral
dan telah dilakukan uji klinis dibeberapa negara
maju.10,11,12,13 Sebelum diedarkan, penelitian kedua
vaksin ini mengikutsertakan lebih dari 60 ribu bayi,
sehingga menjadi penelitian terbesar dalam sejarah
tentang vaksiniasi di abad ke-21. Masing-masing
vaksin tersebut memiliki angka efikasi antara 85%-
98% untuk mencegah terjadinya diare rotavirus berat,
sehingga tidak memerlukan rawat inap serta dapat
mencegah kejadian diare-umum yang perlu rawat
inap.
Masih terdapat dua pertanyaan fundamental
yang belum memperoleh jawaban secara jelas.4,7,8,10
Pertama, apakah vaksin rotavirus memiliki efektivitas
yang sama antara negara-negara maju dan negara
sedang berkembang di Afrika dan Asia, seperti di
Indonesia? Diduga efektivitas vaksin yang diberikan
secara oral di negara sedang berkembang lebih
rendah dibandingkan dengan negara-negara maju
karena adanya beberapa faktor yang menurunkan
efikasi vaksin oral tersebut. Salah satu hipotesisnya
ialah karena lebih rendahnya daya serap usus
terhadap vaksin tersebut. Penyebab rendahnya daya
serap tersebut antara lain karena faktor antibodi
maternal, menyusui, interferensi dari kuman patogen
enterik yang lain, dan malnutrisi. Selain itu, jenis
(strain) rotavirus yang beredar di negara sedang
berkembang mungkin berbeda dengan strain rotavirus
di negara sudah maju, karena distribusi strain
rotavirus tidak sama antar negara, maka besar
kemungkinannya beberapa jenis virus tersebut tidak
dapat diproteksi dari vaksin oleh Merck dan GSK
yang telah beredar di pasaran. Sampai saat ini belum
diketahui secara pasti, apakah dapat terjadi
perlindungan vaksin secara lintas strain
rotavirus.4,7,8,10
Kedua, vaksinasi untuk diare rotavirus
menghadapi beberapa tantangan yang serius di
negara-negara maju dan sedang berkembang.
Tantangan yang dihadapi adalah: harga vaksin yang
mahal, pemahaman tentang penyakit rotavirus yang
masih rendah, dan masalah keraguan penerimaan
vaksin baru karena adanya riwayat risiko vaksinasi
sebelumnya (citra negatif). Untuk memasukkan
vaksin rotavirus ke dalam program imunisasi nasional
perlu mempertimbangkan cost-effectiveness
(efektivitas-biaya) program tersebut, harga vaksin
saat ini masih sangat mahal.4,7,10
Beberapa penelitian sebelumnya memberikan
kesimpulan yang sama bahwa vaksin rotavirus akan
cost-effective apabila harganya bisa ditekan menjadi
lebih rendah dari harga yang ditetapkan oleh
produsen saat ini. Di samping itu, tingkat cost
effectiveness vaksinasi juga tergantung dari “biaya
medis” dan “non-medis”, baik biaya secara langsung
atau tidak langsung yang besarnya bervariasi antar
negara.8,14-18 Misalnya, input data tersebut untuk
Indonesia sangat berbeda dengan data yang
digunakan dalam menghitung cost-effectiveness
vaksin di Vietnam.19 Dengan demikian, masalah
yang masih perlu dikaji ialah: apakah program
vaksinasi rotavirus cukup cost-effective sebagai
salah satu intervensi kesehatan masyarakat di
Indonesia?
Artikel ini akan menyajikan estimasi “beban
penyakit” (burden of disease) rotavirus dan analisis
dampak ekonomis diare rotavirus di Indonesia.
Dengan mengacu data efektivitas dan harga vaksin
yang telah beredar di tingkat global, tulisan ini akan
mengkaji cost-effectiveness program imunisasi
rotavirus secara nasional di Indonesia. Berapakah
batas harga termahal vaksin rotavirus yang masih
cost-effective di Indonesia? Perhitungan cost
effectiveness untuk program nasional akan
didasarkan pada data empirik yang pernah
dikumpulkan oleh penulis bersama-sama peneliti
peneliti lain20,21, termasuk dari para anggota “Asian
Rotavirus Network”.22,23,24 Di samping data tersebut,
data sekunder tentang demografi dan kesehatan
dasar yang berskala nasional diolah kembali
sehingga kajian ini semaksimal mungkin
menggunakan data empirik yang berasal dari
Indonesia.25,26 Diharapkan melalui kajian ini dapat
menjadi pertimbangan untuk menentukan kebijakan,
apakah sudah saatnya vaksin diare rotavirus diadopsi
sebagai program imunisasi nasional?
Banyak Dibaca





OTISTA
13 Juni 2022 119 kali Baca...
PELAYANAN USG IBU HAMIL
03 Juli 2024 119 kali Baca...
PENDAMPINGAN PENDERITA HIPERTENSI
13 September 2024 86 kali Baca...
PERTEMUAN KMPK
03 Juni 2024 81 kali Baca...
KEGIATAN DOKTER MUTER
20 September 2024 63 kali Baca...
MAKLUMAT PELAYANAN
06 Januari 2025 36 kali Baca...